Tuesday, 16 December 2014

cerita (menjelang) akhir tahun


11 Desember lalu, Rafsanjani tepat 18 bulan. Setahun persis mulai makan, insyaAlloh minimal 6 bulan lagi lulus S3 ASI. Pas pula di hari itu, Rafsanjani demam tinggi. Alhamdulillah, sorenya sudah mendingan.

Ada dua agenda besar kami untuk Rafsanjani dalam 6 bulan ke depan, yaitu memulai persiapan penyapihan dan toilet training-free diapers. Sampe sekarang pun belum ada yang dimulai, tapi optimis semua berjalan baik dan lancar.

Oiya satu lagi, kayaknya harus mulai mensosialisasikan anak kecil ke Rafsanjani, semoga kami dikasih amanah adik Rafsanjani pada waktu yang tepat, insyaAlloh. :)


sunrise di tepi sungai Musi

Tuesday, 4 November 2014

Kabar Bulan Oktober

Oktober ini bulan yang melelahkan buat saya, kami sekeluarga sih sebenernya. Banyak hal yang terjadi di bulan ini, yang rasanya bikin energi, waktu, dan pikiran terkuras.

Yang pertama adalah renovasi rumah mama. Ini ga ada hubungan langsung dengan saya, harusnya. Tapi berdampak pada rafsanjani yang dititip dirumah mama setiap hari. Debu, beberapa bagian rumah yang terbuka, dan juga berisik, membuat kami memutuskan untuk meninggalkan rafsanjani dirumah kami sementara waktu. Efeknya ternyata luar biasa :D. 

Setiap siang kami harus menempuh kurang lebih 14 km untuk menjenguk rafsanjani. Karena ga ada gantian, pengasuh rafsanjani ga kami bolehin ngerjain kerjaan lain. Untuk makan siang dan makan malam, kami harus beli atau saya yang masak. Biasanya begitu nyampe rumah sore hari, saya mulai beraksi di dapur, membuat makanan2 sederhana, sekedar goreng ayam atau telur, rebus lalap, dan bikin sambel.

Setiap weekend, saya ke pasar, belanja dan nyampe rumah langsung diolah untuk disimpen di kulkas untuk persediaan selama seminggu. Biasanya ayam, tahu, tempe sudah saya ungkep, ikan pun sudah dikasih air asem jawa, sehingga untuk memasaknya nanti ga perlu waktu yang lama.

Pikiran jadi ga fokus. Takut nanti rafsanjani bosen dirumah aja sendirian, takut pengasuhnya capek, takut rafsanjani ditinggal sendirian kalo pengasuhnya solat atau ke kamar mandi, pokoknya banyak takut deh.


Di pertengahan bulan Oktober, bapak harus opname di RS. Diagnosis dokter adalah stroke telinga, sudden deafness. Gejalanya adalah vertigo hampir seminggu. Golden period penyembuhannya cuma 1 minggu. Kami ga punya banyak waktu untuk berpikir, bapak harus masuk RS sesegera mungkin. Ga ada treatment khusus sih. Bapak cuma disuruh istirahat, meminimalkan kepala tegak, pake earphone biar ga denger suara dari luar, minum obat, dan dikasih oksigen setiap 6 jam untuk dialirkan ke telinga. Dan itu semua terjadi selama 2 minggu. Bisa dibayangin bosennya bapak disana.

rafsanjani waktu diselundupin ke RS

Saya selalu nyempetin setiap siang abis jenguk rafsanjani, mampir ke RS untuk nemenin bapak dan mama yang nungguin disana. Jam istirahat saya harus molor 2-3 jam. Alhamdulillah punya rekan kerja yang pengertian dan ga rese. Malahan selalu nanya progress bapak dari hari ke hari.

Kamis, 30 Oktober kemarin bapak dibolehin pulang. Seneng banget rasanya. Rafsanjani kami ajak jemput ke RS, trus malemnya kami nginep dirumah mama. Besok paginya, pengasuh rafsanjani dijemput suami untuk ngurus rafsanjani karena kami harus masuk kerja kayak biasa. Hari itu rasanya lega dan tenang banget ngantor. Bapak sudah pulang dari RS, rafsanjani sama pengasuhnya ada dirumah mama. :')

Sayapun minta pendapat dengan mama, bapak, dan suami. Alhamdulillah semua sepakat rafsanjani kembali dititip dirumah mama. Setiap pagi kami anter rafsanjani dan pengasuhnya kerumah mama, pulang sore dijemput lagi. Memang harus berangkat lebih awal dan pulang lebih akhir, tapi kalo demi kebaikan rafsanjani sih, perjuangan apapun akan kami lakukan.



dijalan jemput bapak


Oktober berlalulah, bawa semua kegundahan dan kegelisahan yang ada bersamamu. Dan November, hampirilah kami dengan segala optimisme dan kebahagiaan.

Tak ada ujian yang tidak bisa dilewati, hanya nilainya saja yang membedakan seberapa mampu kita melaluinya. Dan percayalah bahwa Alloh selalu bersama kita :).

Thursday, 16 October 2014

Rindu itu

Dulu..begitu ketemu mama waktu pulang ke Palembang kalo libur kuliah, saya pasti nangis sambil meluk mama. Rindu....yang tak terdefinisikan, tak juga sanggup untuk diucapkan. Rasanya lega dan bahagia, seolah semua akan baik-baik saja kalo ada mama.

Kemarin, saya pulang siang jenguk Rafsanjani. Tiga hari terakhir, saya ada urusan lain sehingga ga bisa pulang siang. Saya masuk lewat pintu belakang. Rafsanjani menghambur ke pintu depan, melihat ayahnya, kemudian terus berlari menuju motor, seperti mencari sesuatu. Saya panggil dia dari belakang. Rafsanjani noleh, setengah melompat begitu liat saya, lalu lari ke pelukan saya.

Ekspresinya, raut wajahnya, ga akan saya lupa. Mata berkaca-kaca, pekik bahagia yang tertahan, tangan mungil yang terbuka lebar. Mungkin sama kayak ekspresi saya tiap meluk mama dulu. 


Ini anugerah yang ga pernah terfikir sebelumnya:

"anugerah menjadi orang yang sangat penting bagi seseorang"

Tuesday, 14 October 2014

Facts about my marriage


Udah berasa artis2 aja deh, yang biasanya jadi artikel di majalah-majalah remaja . :p

Yang mau baca silakan lanjut, yang mual silakan ke kamar mandi terdekat. :D

Here they are :

1. Sama-sama ga suka mall. Ini blessing banget buat saya yang ga tahan jalan lama-lama. Dari dulu selalu lebih milih dirumah ketimbang jalan2 di mall. Eh...dapet suami yang juga ga suka sama mall. Biasanya kalo ke mall, sudah punya tujuan pasti dan sudah direncanain dari jauh2 hari, beli ini-itu, abis tu pulang deh. :D
Sejak punya rafsanjani, aktivitas nge-mall biasanya diisi dengan main di playground, makan (ini juga jarang), abis tu pulang. Kami juga jarang makan diluar. Kalo memang pengen jajan, biasanya beli buat dimakan dirumah. Lebih tenang dan menyenangkan.

2. Sampe sekarang panggilan kami masih adek-kakak. Eciyeeee...sok imut. Saya kok malah ngerasa geli2 gimana kalo manggil suami dengan sebutan 'ayah' atau dipanggil suami dengan sebutan 'ibu'. Kecuali, kami lagi ngomong atau memposisikan diri sebagai rafsanjani. 
Tapi selebihnya, -even di tempat umum-, suami saya tetep manggil 'adek', sayapun tetep manggil 'kakak'. Sampe2 saya pernah digodain mbak2 kalem-'alim-solehah waktu naik lift dikantor, "kakaknya ga ikut?" . Senyum2 malu aja deh. :D
Makanya saya suka bingung kalo denger anak2 sekolahan yang pacaran, trus manggil pasangannya abi-ummi atau ayah-bunda. Ga geli apa yaa.. Ohmaiii..

3. Si pendiem vs si tukang ngomong. Kalo orang lain pasti ngira, saya yang pendiem dan suami yang tukang ngomong, karena saya lebih kalem (uhuk!) dibanding suami yang suka bercanda dengan siapa aja. Tapi kalo sudah berdua, jadinya malah kebalikan. Saya tipikal pencerita. Semua hal yang saya alami, saya rasakan, hampir pasti saya ceritain. Kalo dulu ceritanya sama mama, kalo sekarang yaa..sama suami. Setiap hari saya menyusun list di kepala, apa2 yang harus saya ceritain ke suami nanti kalo pulang kerja. Begitu naik mobil pulang dari kantor, mengalirlah semua cerita2 itu. Mulai dari cerita kerjaan, jajan gado-gado dikantin, ditraktir pempek, pak bos yang mau liburan, sampe ditegor satpam pun saya ceritain.
Suami saya dari SMP terbiasa hidup merantau, jadi -mungkin- ga punya tempat cerita detil kayak saya. Awal2 menikah, beliau baru cerita kalo ditanya aja.
Sampe sekarang pun, kalo sudah kehabisan cerita, saya bakal memancing suami dengan mulai bertanya, "ada cerita apa kak dikantor?". Kalo masih belom ketemu bahan cerita, saya akan nanya, tadi jajan ga, makan siang sama siapa, lauknya apa, beli dimana, harganya berapa, dll. Pokoknya lengkap deh. :D
Sekarang, di 2 tahun pernikahan kami, suami sudah mulai suka cerita sendiri tanpa harus ditanya tentang apa yang dialaminya seharian.

Udah cukup deh tiga aja fakta tentang kehidupan pernikahan saya. Masih banyak sebenernya, tapi apa mau dikata, khawatirnya pembaca bosen dan geli. hehehe.

Btw, meski terlambat, happy 2nd wedding anniversary, kakak.. 
Semoga Alloh selalu menjaga keluarga kita. Masih banyak mimpi dan cita-cita yang harus kita perjuangkan. Semoga Alloh permudah semuanya. 

ijo-merah-ijo

Love you.

Thursday, 4 September 2014

Aku dilamaaaarrr....


September ceRIYA. Postingan ini berhubungan dengan tanggal 1 September, tanggal dimana saya dilamar oleh lelaki yang jadi suami saya sekarang. Uhuyyy..

Sebenernya ini bukan 'khitbah' yang sesungguhnya. Karena menurut saya, khitbah itu adalah ketika seorang lelaki meminta kepada sang ayah perempuan untuk dinikahkan dengan anaknya, dan proses ini sudah terjadi pada saya beberapa hari sebelumnya. Lamaran yang saya maksud ini adalah pertemuan dua keluarga besar untuk memutuskan segala hal mengenai pernikahan.

Jadi ceritanya, setelah ta'aruf tatap muka dan kakak (suami) mengkhitbah saya lewat Bapak, kakak janji untuk membawa keluarga besarnya menemui keluarga besar saya. Begitu tau keluarga kakak mau dateng, mama saya langsung nelepon semua saudara kandungnya. Ini cuma dalam hitungan hari sebelum hari lamaran itu. Kagetlah uwak2, om, dan tante saya, karena ga pernah ada pembicaraan mengenai 'dinda punya pacar'. Fyi, dinda adalah panggilan keluarga untuk saya. Imut kan?? :D

Pas hari H, 1 September 2012, keluarga besar saya sudah kumpul dirumah sebelum maghrib. Setelah solat magrib bersama, saya pun siap-siap, ganti baju dan dandan pula. Biasanya, calon mempelai wanita akan duduk di bagian dalam rumah dan nanti dipanggil keluar untuk diperkenalkan dengan keluarga besar calon mempelai laki2.

Sampailah keluarga besar kakak dirumah kami, cuma 10 orang sih, dan dari keluarga inti beliau cuma ada orang tuanya aja, karena saudara2 kakak ga ada yang tinggal di Palembang. Kehebohan dimulai dengan tante2 dan sepupu2 saya yang ngumpul di bagian dalem rumah, ngintip dan menebak2 yang mana calon suami saya. Sempet salah tebak karena ada satu orang lelaki muda -selain kakak- di rombongan yang dateng. Saya ditanyain, "yang mana orangnya? pake baju warna apa?". Lah mana saya tau, kan ga liat dan ga bilang untuk janjian apapun sebelumnya. ^^

Setelah pembicaraan mengenai tanggal dan lain-lain selesai, acara ditutup dengan doa dan makan malem. Saya??? Sama sekali ga disuruh keluar. Padahal udah dandan bok, walopun ga heboh2 amat sih.

Selesai acara, keluarga kakak pamit pulang. Barulah, ada tante yang berinisiatif manggil saya keluar untuk salaman sama ibu-ibu keluarga kakak. Lumayan deh, ga rugi2 amat dandannya. :p


Keputusannya, kami akan menikah 20 hari lagi.


ini poto seminggu abis nikah. Masih malu-malu.


Oiya, mungkin ada yang penasaran, gimana cara kakak melamar saya. Ga ada kata-kata "will you marry me?" sambil pegang cincin atau "maukah kau menjadi ibu dari anak2ku kelak?". BIG NO.

Kakak langsung meminta guru ngajinya memproses ta'aruf kami, tanpa ada pembicaraan sedikitpun dengan saya secara langsung. Kakak hanya mengirimkan pesan via BBM dua malam sebelum ta'aruf tatap muka (sekitar 8 hari sebelum acara lamaran ini).

Isinya kira2 begini : "Kalo memang kita berjodoh, pernikahan akan dilangsungkan sebelum tanggal 1 Oktober". Sudah, begitu saja. Kok saya mau ya?? Hahaha.