Monday, 7 April 2014

Cinta untuk Sang Pangeran



Rafsanjani, putra pertama kami, yang Dia titipkan dalam rahim saya hanya dalam hitungan hari sejak kami menikah, dan lahir dalam usia 37 minggu, saat usia pernikahan kami bahkan belum genap 9 bulan. Saat pasangan lain menikmati bulan madu ke tempat-tempat wisata di bulan-bulan pertama pernikahan, saya sudah berjuang melawan rasa mual. Saat-saat yang melelahkan, tapi sangat membahagiakan.

Saya mencintainya, bahkan sebelum bertemu dengannya. Rasa cinta yang memaksa saya untuk makan lebih banyak dan bergizi, istirahat lebih lama, serta menjaga diri lebih hati-hati ketika hamil. Dan saat dokter mengatakan Rafsanjani sudah harus dilahirkan, saya langsung setuju dengan segala tindakan dokter terhadap saya. Yang saya pikirkan saat itu hanyalah Rafsanjani lahir dengan selamat.

waktu masih merah dan imut-imut^^

Saya mencintainya, dengan cara yang mungkin berbeda dari orang tua lain. Saya meyakinkan diri memberi ASI Eksklusif sebagai uang muka dalam berinvestasi untuk kesehatan fisik dan mentalnya. Dengan jam kerja 07.30-17.00, saya memaksa untuk tidak menyerah memberikan yang terbaik untuk Rafsanjani, salah satunya dengan ASI Eksklusif. Saya juga harus pasang muka tebal saat keluarga, tetangga, atau teman underestimate terhadap kemampuan saya memberikan ASI Eksklusif. Namun, melihat perkembangannya sampai sekarang, rasanya semua terbayar lunas.

Saya mencintainya, dengan sepenuh hati dan segenap jiwa. Saat melihat mata cokelatnya menari lincah dan bibirnya tersenyum, saya selalu bertekad untuk mempertahankan senyum itu diwajahnya. Rafsanjani harus memiliki tempat tinggal dan pakaian yang layak, pendidikan yang tinggi, makanan yang bergizi, dan fasilitas yang memadai. Saya akan bekerja keras agar semua itu terwujud.

Saya mencintainya, menyebut namanya dalam setiap doa, mengingat wajahnya dalam setiap aktivitas, membayangkan tingkahnya dalam setiap helaan nafas. Saya berjanji akan mendidiknya dengan baik, membimbingnya untuk selalu dekat dengan Sang Pencipta, dan mengajarinya nilai-nilai kebaikan. Pinta saya kepadaNYA supaya Rafsanjani selalu dilindungi dan kelak akan menjadi rahmat bagi semesta alam. Diatas itu semua, cita-cita utama saya adalah bisa berkumpul dengannya di surga yang maha indah.

semoga jadi pemuda yang akrab dengan masjid

Saya menghentikan hobi jalan-jalan keluar kota yang dulu setahun bisa lima kali saya lakukan. Saya mengajukan drop out dari kampus idaman saya, dan pindah ke kampus lain yang lebih fleksibel waktu belajarnya. Saya tidur lebih akhir dan bangun lebih pagi, padahal kurang tidur adalah pantangan utama dari dokter buat saya. Semua ‘pengorbanan’ itu tidak ada apa-apa jika dibandingkan dengan Rafsanjani yang tumbuh sehat dan pintar sampai saat ini. Itulah cinta yang saya punya untuk Rafsanjani. Cinta seorang ibu, yang banyak diabadikan orang melalui lagu. Cinta yang tak terdefinisikan, namun bisa memaksa saya untuk melakukan hal yang dulu terlihat mustahil, bahkan hanya untuk dibayangkan. Cinta yang sesungguhnya, ingin selalu memberi tanpa pernah berharap balasan dari yang dicintai.



Note : Blogpost ini adalah pesan cinta untuk putra saya, Rafsanjani, yang saya tulis untuk mengikuti lomba di www.cintakeluarga.org  @ailaindonesia . Meskipun ga menang, cinta saya untuk Rafsanjani jauuuh lebih dalam daripada tulisan ini :). 

Friday, 4 April 2014

kantor ini

Jumat 28 Maret lalu,di saat suami dinas keluar kota, kami nginep dirumah mama. Abis magrib, dapet kabar keluarnya SK mutasi. Deg2an, karena kami tau bahwa suami diusulkan pindah kantor sebab suami-istri ga boleh sekantor dan kami sadar sesadar2nya betapa luas wilayah kerja Direktorat Jenderal Pajak ini, jadi harus siap ditempatkan dimana saja. Ga lama, dapet kabar kalo suami mutasi ke KPP Madya Palembang, yang lokasi kantornya dekeeet banget sama rumah mama. Alhamdulillah.

Masih sibuk baca2 chat dari temen kantor, ada yg ngasihtau lagi kalo saya juga kena mutasi ke KPP Pratama Palembang Ilir Barat. Langsung buru2 download SK-nya, dan nama saya memang ada disitu. KPP Pratama Palembang Ilir barat berada satu gedung dengan KPP Madya Palembang. Alhamdulillah, Allohu akbar.

Terlalu pas untuk sebuah kebetulan. Rafsanjani sudah berhasil ASI Eksklusifnya, suami selesai kuliah dan tinggal nunggu diwisuda, letak kantor yang deket banget sama rumah mama (tempat raf dititip setiap hari), dan pindahnya bareng suami pula. Speechless malem itu, sampe ga bisa tidur saking bahagianya.
 


Saya senang, tentu saja. Saya berkantor di KPP Pratama Kayu Agung sejak 18 Agustus 2009, jadi total 4 tahun 7 bulan lebih sekian belas hari. Bapak-Ibu-temen2 sudah mutasi sana-sini, saya masih tetep aja disitu :D. Bosen, jenuh, kesel dengan beberapa orang, sebel dengan beberapa sistem, dan pegel dengan ampera yang suka macet gila2an. Kepindahan ini semacam mencet tombol 'refresh' untuk diri saya secara keseluruhan.


pose sama temen2 kantor



Tapi, bohong besar kalo saya bilang sedih menjalani hari2 di KPP Pratama Kayu Agung. Kantor ini punya banyak kenangan buat saya. Bagaimanapun, kantor inilah yang 'mematangkan' saya. Ketika keluar dari kampus yang serba ideal, kantor ini seperti memberi pelajaran kepada saya bagaimana kehidupan yang sesungguhnya. 
Pelan-pelan, sama sekali tidak pernah dipaksa dan diburu2.
Saya bertemu banyak orang dengan berbagai karakter: baik, licik, ambisius, besar omong, serakah ataupun yang lurus2 aja. Saya belajar untuk berkomunikasi dengan bermacam2 manusia dengan cara yang berbeda pula. Dan saya belajar menempatkan diri pada suatu situasi atau sistem, meskipun tidak sesuai dengan saya. 

Dikantor ini saya bertemu dengan suami saya. Meski tanpa pacaran ataupun pendekatan yang lama, kami menikah, dengan dukungan penuh temen2 sekantor :D. Malahan waktu bagi undangan (ga ada yang tau kami sedang proses ta'aruf), ada yang ngirim pesan, "saya terharu mendapat undangan dari riya dan gandi. Barokalloh." Saya masih inget banget, saat akad nikah dan resepsi pernikahan kami, hampir semua temen kantor dateng, malahan ada yang hadir di dua acara itu meskipun diadakan di hari yang berbeda. 

Dikantor ini saya mendapat dukungan memberikan ASI ekslusif untuk raf, secara langsung ataupun ga langsung. Atasan yang punya toleransi tinggi, rekan kerja yang ga rese', suasana kerja yang nyaman. Faktor2 itu yang bikin hormon oksitosin lancar diproduksi.


Belakangan ini, kondisi kantor bikin nyaman banget. Beban pekerjaan yang ga begitu tinggi, temen2 gaul yang asik2, dan suami yang siap anter-jemput. Almost perfect.

ahh..terlalu banyak kalo mau ditulis semua. Yang jelas, saya bahagia dan bersyukur banget pernah berkantor disini, trus tambah bahagia dan bersyukur lagi dengan kepindahan saya plus suami. ^^

Semuanya Alloh yang atur, jadi pasti tidak akan salah.

Kantor ini punya banyak cerita, yang tidak akan terlupa, yang kelak akan menjadi hikmah, dan saya bahagia pernah menjadi salah satu bagiannya.


jadi pegawai terbaik bareng (calon) suami

Friday, 14 March 2014

Bengkulu




Desember kemaren dapet undangan dari sepupu yang mau nikahan  di Bengkulu, bulan Maret katanya. Langsung kepengen ikut. Sudah lama ga traveling, apalagi sejak nikah memang ga pernah karena Alloh langsung titipkan Rafsanjani di rahim saya. Trus, setelah diitung2, Rafsanjani di bulan Maret sudah hampir 9 bulan umurnya, jadi insyaAlloh lebih kuat dan lebih mudah diajak jalan2.

Beberapa hari sebelum jadwal berangkat, kami terbentur cuti kakak (suami) yang belom di-approve, karena bulan Maret adalah bulan sibuknya pegawai pajak, terutama Account Representative seperti kakak. Alhasil, dagdigdug nunggu kabar approval dari Kepala Kantor. Alhamdulillah kamis sore dikasitau kalo cutinya sudah oke.

Jumat pagi kami berangkat dari rumah ba'da subuh, jemput mama dan rombongan, trus langsung berangkat. Kami memang mutusin untuk lewat jalur darat karena kalo naek pesawat harus transit dan disananya nanti tambah repot karena ga ada kendaraan. Yang nyetir gantian Bapak dan kakak.Ga ada hambatan selama di jalan, cuma keponakan (2 tahun) muntah2 karena belom sarapan dan lincah banget mondar-mandir di mobil. Rafsanjani anteng aja, sibuk maen-nyusu-bobok. Jam 21.00 kami nyampe di Bengkulu. Bersih2, solat, langsung tidur. Rafsanjani malah sibuk maen sendiri sebelum tidur, padahal selama ini ga pernah ngajak begadang. :)


tempat makan lontong tunjang
Besoknya jam 06.00 pagi kami semua sudah bangun, rencananya sih mau liat sunrise di pantai, tapi kesiangan :p. Jadinya cari sarapan dulu deh, lontong tunjang. Sarapan yang penuh kolesterol. Maklumlah, keluarga Bapak masih kentel banget Padang-nya. 



Abis sarapan, kami langsung ke pantai, keponakan dan kakak maen sepuasnya. Kakak sampe bawa kacamata renang, saking niatnya mau berenang di pantai. Saya dan Rafsanjani ngeliatin aja. Rempong bok, basah2 bawa anak bayi. Rafsanjani tetep lincah dan asik maen di saung deket pantai.
fatih (keponakan) abis ketimpa ombak :p
Pulang dari pantai, kami silaturahim ke makwo (kakak bapak) dan uwak (kakak mama) yang memang tinggal di Bengkulu. Ga bisa terlalu lama ngobrol2, karena akad nikah sepupu jam 14.00 di rumah mempelai perempuan. Jam 12.00an kami sudah di rumah tekti (tante yang nikahin anaknya), solat, ganti baju, dan siap2 berangkat. Rombongan besan ini ruameee banget. Saudara kandung Bapak komplit dateng semua plus anak cucu.
sesepupuan, udah beranak-pinak
Malemnya, kami kumpul2 pesta duren di rumah tekti. Pakwo2 sibuk saling ngingetin biar ga makan banyak, soalnya saudara2 Bapak memang banyak yang punya tekanan darah dan kolesterol tinggi :D.

Besok paginya, begitu bangun tidur, kami langsung siap-siap ke gedung tempat resepsi. Kali ini, ga bareng2 perginya, karena siapnya juga beda2. Time arrangement acaranya hampir sama kayak acara resepsi pernikahan di Palembang. Jam setengah 12 pengantin baru masuk, disambut dengan beberapa adat, salah satunya adalah menari bersama sesepuh. Menarik.
pengantin yang berbahagia :)

 
Pulangnya, kami mampir kerumah sepupu untuk ganti baju dan solat, sekalian silaturahim. Lalu lanjut ke rumah pengasingan Bung Karno pada masa penjajahan Belanda dulu yang sudah dijadiin museum. Kakak sibuk poto2, soalnya beliau memang suka banget sama hal2 yang berbau sejarah. Trus, lanjut ke Benteng Malborough, benteng Belanda yang masih kokoh sampe sekarang. Ini bukan pertama kalinya saya ke tempat2 itu, tapi buat saya tetep menarik, apalagi kali ini bareng kakak dan Rafsanjani. Hari itu ditutup dengan makan olahan seafood yang memang terkenal disana.
mama-bapak dengan anak ke-4 dan ke-5. 8-)

Besoknya, kami pulang ke Palembang. Perjalanan yang lebih lama dan lebih melelahkan ketimbang waktu berangkat. Alhamdulillah nyampe rumah jam 23.00 (fiuuuh). Untung masih sisa cuti 1 hari untuk istirahat. :)

Secara keseluruhan, perjalanan kali ini menyenangkan plus melelahkan karena Rafsanjani ga mau digendong orang lain selain saya. Tapi dinikmatin aja. Mungkin Rafsanjani mikir, kapan mumpung bisa manja2 dan digendong sehari penuh sama ibunya.:)

Jadi semangat untuk jalan-jalan lagi,yang memang sudah jadi hobi saya dari dulu, tentunya bareng kakak dan Rafsanjani.Repot itu pasti, tapi ga sebanding sama perasaan bahagia, waktu yang kami habiskan bersama hanya bertiga, juga pengalaman dan kesempatan refreshing dari rutinitas, yang insyaAlloh akan meningkatkan kualitas dan produktivitas kami.




pose di pintu benteng Malborough





Wednesday, 22 January 2014

my 2013

Sudah 3 minggu lebih bulan Januari, tapi ngomongin evaluasi dan resolusi tetep relevan kok :). Banyak kejadian besar di tahun 2013 ini yang saya alami.

Di pekerjaan, 11 Februari 2013, saya pindah ke seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal, ninggalin Subbagian Umum yg sudah saya 'geluti' sejak magang dan pertama kali penempatan. Keputusan para pimpinan yang sangat saya syukuri sampai detik ini. Beban pekerjaan yang jauh lebih sedikit, atasan yang baik dan pengertian, posisi tempat duduk yang nyaman, rekan kerja yang menyenangkan. Perfect.

Di keluarga, yang paling terasa adalah kehadiran Rafsanjani, 11 Juni 2013, putra pertama kami yang lucu, soleh (insyaAlloh), dan pinter. Rumah jadi rame. Konsentrasi saya beralih ke Raf. Betul-betul anugerah luar biasa dari Alloh. Saya belajar dan berubah banyak demi Rafsanjani. Ga bosen ngeliat dan dokumentasiin perkembangan Rafsanjani dari hari ke hari. Pipinya yang tembem, perutnya yang gendut, senyumnya yang manis, semua luar biasa buat saya. Alhamdulillah sudah berhasil ASI Eksklusifnya.

Di kesehatan, 17 Desember 2013, saya harus menjalani operasi pembedahan telinga akhir tahun ini. Cholesteatome, nama penyakitnya. Ternyata masalah di telinga saya selama ini adalah itu, dan ternyataa lagi..........penyakit ini berproses selama minimal 10 tahun baru sampe ke tahap yang saya alami. Saya belajar bahwa menyepelekan hal kecil bisa membawa masalah besar. Gugup saat operasi akan dilakukan. Saya takut mati, takut syaraf2 yang ada terganggu, takut penyakit ini sudah menyebar. Ditambah lagi, salah satu asisten dokternya bilang, saya ga bisa menyusui lagi karena kandungan obat mungkin masih akan mengendap dalam darah saya pasca operasi. Saya sempet pengen batalin operasi ini, tapi akhirnya tetep jadi setelah diyakinkan oleh suami, orangtua, dan saudara. Alhamdulillah, semua ketakutan saya ga terbukti. Operasi berjalan lancar, proses penyembuhan lukanya juga cepet (kata dokternya), dan Rafsanjani ga perlu disapih, cuma ngakalin waktu pumpingnya aja kalo abis disuntik antibiotik.

Di perbaikan diri, saya bergabung dengan salah satu grup whatsapp One Day One Juz (odoj), yang membuat saya 'memaksa' diri untuk menyelesaikan bacaan quran minimal satu juz dalam satu hari. Kegiatan yang berat sekali saya lakukan sejak hamil dan punya anak, tapi alhamdulillah sekarang terasa lebih mudah. Di grup itu juga sering ada tausiyah dan motivasi dari para anggota. Betul kata pepatah, "berteman dengan tukang minyak wangi akan membuat diri kita menjadi ikut wangi". Berkumpul bersama orang soleh/ah adalah salah satu cara untuk ikut menjadi soleh/ah. InsyaAlloh.

Masih banyak sekali nikmat yang Alloh kasih ke saya dan keluarga, yang ga akan bisa saya rinci satu per satu. Syukur tak berbatas selalu tercurah kepada Yang Maha Memberi.


Trus, apa resolusi tahun 2014?
Ini garis besarnya aja yaa..

1. Rafsanjani lanjut ASI dan selalu diberi MPASI homemade
2. Mulai kuliah lagi
3. Istiqomah Odoj, perbaiki kualitas
4. Mempertimbangkan hamil lagi di akhir tahun :)


Semoga Alloh mudahkan semua urusan. Semoga Alloh selalu menjaga kami. Semoga Alloh beri kami kekuatan ketika menghadapi kesulitan. 
Bismillah.


Sunday, 12 January 2014

Satu lagi tentang Rafsanjani

11 Desember 2013, tepat enam bulan sang pangeran mahkota. Hari ini pula, kami boleh bangga dengan perjuangan kami untuk keberhasilan ASI Eksklusif Rafsanjani.
Saya tak bilang ini perjuangan berat, karena saya menikmati saat2 harus menyusui langsung ataupun pumping. Walau kadang dilanda rasa jenuh atau males. Kadang2 juga pengen sesekali jalan bareng temen kantor di jam istirahat (yang biasanya dipake pulang untuk menyusui langsung). Tapi semua berhasil dilewati. Alhamdulillah. Sejak saya hamil, sedikitpun ga kepikiran untuk ngasih susu tambahan ke anak2 kami. InsyaAlloh, memang ga perlu :).

Buat saya, ASI Eksklusif bukan keinginan untuk mengikuti trend, bukan pula ego untuk disebut 'ibu hebat'. Buat saya ASI, adalah hak mutlak bagi anak2 saya, hak yang tidak bisa ditunaikan oleh orang lain kecuali ibunya. Dan bagi saya, menyusui adalah keajaiban, rasanya seperti Tuhan menitipkan sebuah kehidupan.
Rafsanjani sudah semakin jago nyusu. Memang dia jarang melihat mata saya ketika menyusu, seperti yang sering saya baca, dilakukan oleh bayi2 lain ke ibunya, tapi tangan kecilnya selalu meraba, membelai tangan saya ketika menyusu. Seperti apa rasanya? Haru, bahagia, merasa jadi wanita paling bahagia. :')

Rafsanjani sudah mulai makan. Hari-hari pertama ini saya kasih buah, tepung gasol, sesekali kacang hijau. Suami sudah pesen untuk ga ngasih raf biskuit ataupun makanan instan, dan sayapun memang maunya begitu. Saya selalu meyakinkan diri dan suami, raf ga mesti gendut (meski sampe sekarang memang gendut :p), yang penting dia selalu sehat. InsyaAlloh. Sekarang Rafsanjani sudah mulai makan nasi dengan sayur dan lauk2 protein nabati maupun hewani, tentu dengan pengolahan sesuai usianya.

pertama kali raf makan nasi saring

Tak ada pembenaran 'ibu bekerja', dengan ngasih Raf makanan instan. Kami mempekerjakan asisten, kemudian memaksakan diri bolak-balik anter jemput raf dan pengasuhnya ke rumah mama sebelum dan sepulang kerja, tak lain untuk yang terbaik bagi putra kami. Rasanya, fisik dan materi yang kami 'korbankan', tak sebanding dengan bahagianya melihat Rafsanjani tumbuh sehat.