Tuesday, 4 November 2014

Kabar Bulan Oktober

Oktober ini bulan yang melelahkan buat saya, kami sekeluarga sih sebenernya. Banyak hal yang terjadi di bulan ini, yang rasanya bikin energi, waktu, dan pikiran terkuras.

Yang pertama adalah renovasi rumah mama. Ini ga ada hubungan langsung dengan saya, harusnya. Tapi berdampak pada rafsanjani yang dititip dirumah mama setiap hari. Debu, beberapa bagian rumah yang terbuka, dan juga berisik, membuat kami memutuskan untuk meninggalkan rafsanjani dirumah kami sementara waktu. Efeknya ternyata luar biasa :D. 

Setiap siang kami harus menempuh kurang lebih 14 km untuk menjenguk rafsanjani. Karena ga ada gantian, pengasuh rafsanjani ga kami bolehin ngerjain kerjaan lain. Untuk makan siang dan makan malam, kami harus beli atau saya yang masak. Biasanya begitu nyampe rumah sore hari, saya mulai beraksi di dapur, membuat makanan2 sederhana, sekedar goreng ayam atau telur, rebus lalap, dan bikin sambel.

Setiap weekend, saya ke pasar, belanja dan nyampe rumah langsung diolah untuk disimpen di kulkas untuk persediaan selama seminggu. Biasanya ayam, tahu, tempe sudah saya ungkep, ikan pun sudah dikasih air asem jawa, sehingga untuk memasaknya nanti ga perlu waktu yang lama.

Pikiran jadi ga fokus. Takut nanti rafsanjani bosen dirumah aja sendirian, takut pengasuhnya capek, takut rafsanjani ditinggal sendirian kalo pengasuhnya solat atau ke kamar mandi, pokoknya banyak takut deh.


Di pertengahan bulan Oktober, bapak harus opname di RS. Diagnosis dokter adalah stroke telinga, sudden deafness. Gejalanya adalah vertigo hampir seminggu. Golden period penyembuhannya cuma 1 minggu. Kami ga punya banyak waktu untuk berpikir, bapak harus masuk RS sesegera mungkin. Ga ada treatment khusus sih. Bapak cuma disuruh istirahat, meminimalkan kepala tegak, pake earphone biar ga denger suara dari luar, minum obat, dan dikasih oksigen setiap 6 jam untuk dialirkan ke telinga. Dan itu semua terjadi selama 2 minggu. Bisa dibayangin bosennya bapak disana.

rafsanjani waktu diselundupin ke RS

Saya selalu nyempetin setiap siang abis jenguk rafsanjani, mampir ke RS untuk nemenin bapak dan mama yang nungguin disana. Jam istirahat saya harus molor 2-3 jam. Alhamdulillah punya rekan kerja yang pengertian dan ga rese. Malahan selalu nanya progress bapak dari hari ke hari.

Kamis, 30 Oktober kemarin bapak dibolehin pulang. Seneng banget rasanya. Rafsanjani kami ajak jemput ke RS, trus malemnya kami nginep dirumah mama. Besok paginya, pengasuh rafsanjani dijemput suami untuk ngurus rafsanjani karena kami harus masuk kerja kayak biasa. Hari itu rasanya lega dan tenang banget ngantor. Bapak sudah pulang dari RS, rafsanjani sama pengasuhnya ada dirumah mama. :')

Sayapun minta pendapat dengan mama, bapak, dan suami. Alhamdulillah semua sepakat rafsanjani kembali dititip dirumah mama. Setiap pagi kami anter rafsanjani dan pengasuhnya kerumah mama, pulang sore dijemput lagi. Memang harus berangkat lebih awal dan pulang lebih akhir, tapi kalo demi kebaikan rafsanjani sih, perjuangan apapun akan kami lakukan.



dijalan jemput bapak


Oktober berlalulah, bawa semua kegundahan dan kegelisahan yang ada bersamamu. Dan November, hampirilah kami dengan segala optimisme dan kebahagiaan.

Tak ada ujian yang tidak bisa dilewati, hanya nilainya saja yang membedakan seberapa mampu kita melaluinya. Dan percayalah bahwa Alloh selalu bersama kita :).

Thursday, 16 October 2014

Rindu itu

Dulu..begitu ketemu mama waktu pulang ke Palembang kalo libur kuliah, saya pasti nangis sambil meluk mama. Rindu....yang tak terdefinisikan, tak juga sanggup untuk diucapkan. Rasanya lega dan bahagia, seolah semua akan baik-baik saja kalo ada mama.

Kemarin, saya pulang siang jenguk Rafsanjani. Tiga hari terakhir, saya ada urusan lain sehingga ga bisa pulang siang. Saya masuk lewat pintu belakang. Rafsanjani menghambur ke pintu depan, melihat ayahnya, kemudian terus berlari menuju motor, seperti mencari sesuatu. Saya panggil dia dari belakang. Rafsanjani noleh, setengah melompat begitu liat saya, lalu lari ke pelukan saya.

Ekspresinya, raut wajahnya, ga akan saya lupa. Mata berkaca-kaca, pekik bahagia yang tertahan, tangan mungil yang terbuka lebar. Mungkin sama kayak ekspresi saya tiap meluk mama dulu. 


Ini anugerah yang ga pernah terfikir sebelumnya:

"anugerah menjadi orang yang sangat penting bagi seseorang"

Tuesday, 14 October 2014

Facts about my marriage


Udah berasa artis2 aja deh, yang biasanya jadi artikel di majalah-majalah remaja . :p

Yang mau baca silakan lanjut, yang mual silakan ke kamar mandi terdekat. :D

Here they are :

1. Sama-sama ga suka mall. Ini blessing banget buat saya yang ga tahan jalan lama-lama. Dari dulu selalu lebih milih dirumah ketimbang jalan2 di mall. Eh...dapet suami yang juga ga suka sama mall. Biasanya kalo ke mall, sudah punya tujuan pasti dan sudah direncanain dari jauh2 hari, beli ini-itu, abis tu pulang deh. :D
Sejak punya rafsanjani, aktivitas nge-mall biasanya diisi dengan main di playground, makan (ini juga jarang), abis tu pulang. Kami juga jarang makan diluar. Kalo memang pengen jajan, biasanya beli buat dimakan dirumah. Lebih tenang dan menyenangkan.

2. Sampe sekarang panggilan kami masih adek-kakak. Eciyeeee...sok imut. Saya kok malah ngerasa geli2 gimana kalo manggil suami dengan sebutan 'ayah' atau dipanggil suami dengan sebutan 'ibu'. Kecuali, kami lagi ngomong atau memposisikan diri sebagai rafsanjani. 
Tapi selebihnya, -even di tempat umum-, suami saya tetep manggil 'adek', sayapun tetep manggil 'kakak'. Sampe2 saya pernah digodain mbak2 kalem-'alim-solehah waktu naik lift dikantor, "kakaknya ga ikut?" . Senyum2 malu aja deh. :D
Makanya saya suka bingung kalo denger anak2 sekolahan yang pacaran, trus manggil pasangannya abi-ummi atau ayah-bunda. Ga geli apa yaa.. Ohmaiii..

3. Si pendiem vs si tukang ngomong. Kalo orang lain pasti ngira, saya yang pendiem dan suami yang tukang ngomong, karena saya lebih kalem (uhuk!) dibanding suami yang suka bercanda dengan siapa aja. Tapi kalo sudah berdua, jadinya malah kebalikan. Saya tipikal pencerita. Semua hal yang saya alami, saya rasakan, hampir pasti saya ceritain. Kalo dulu ceritanya sama mama, kalo sekarang yaa..sama suami. Setiap hari saya menyusun list di kepala, apa2 yang harus saya ceritain ke suami nanti kalo pulang kerja. Begitu naik mobil pulang dari kantor, mengalirlah semua cerita2 itu. Mulai dari cerita kerjaan, jajan gado-gado dikantin, ditraktir pempek, pak bos yang mau liburan, sampe ditegor satpam pun saya ceritain.
Suami saya dari SMP terbiasa hidup merantau, jadi -mungkin- ga punya tempat cerita detil kayak saya. Awal2 menikah, beliau baru cerita kalo ditanya aja.
Sampe sekarang pun, kalo sudah kehabisan cerita, saya bakal memancing suami dengan mulai bertanya, "ada cerita apa kak dikantor?". Kalo masih belom ketemu bahan cerita, saya akan nanya, tadi jajan ga, makan siang sama siapa, lauknya apa, beli dimana, harganya berapa, dll. Pokoknya lengkap deh. :D
Sekarang, di 2 tahun pernikahan kami, suami sudah mulai suka cerita sendiri tanpa harus ditanya tentang apa yang dialaminya seharian.

Udah cukup deh tiga aja fakta tentang kehidupan pernikahan saya. Masih banyak sebenernya, tapi apa mau dikata, khawatirnya pembaca bosen dan geli. hehehe.

Btw, meski terlambat, happy 2nd wedding anniversary, kakak.. 
Semoga Alloh selalu menjaga keluarga kita. Masih banyak mimpi dan cita-cita yang harus kita perjuangkan. Semoga Alloh permudah semuanya. 

ijo-merah-ijo

Love you.

Thursday, 4 September 2014

Aku dilamaaaarrr....


September ceRIYA. Postingan ini berhubungan dengan tanggal 1 September, tanggal dimana saya dilamar oleh lelaki yang jadi suami saya sekarang. Uhuyyy..

Sebenernya ini bukan 'khitbah' yang sesungguhnya. Karena menurut saya, khitbah itu adalah ketika seorang lelaki meminta kepada sang ayah perempuan untuk dinikahkan dengan anaknya, dan proses ini sudah terjadi pada saya beberapa hari sebelumnya. Lamaran yang saya maksud ini adalah pertemuan dua keluarga besar untuk memutuskan segala hal mengenai pernikahan.

Jadi ceritanya, setelah ta'aruf tatap muka dan kakak (suami) mengkhitbah saya lewat Bapak, kakak janji untuk membawa keluarga besarnya menemui keluarga besar saya. Begitu tau keluarga kakak mau dateng, mama saya langsung nelepon semua saudara kandungnya. Ini cuma dalam hitungan hari sebelum hari lamaran itu. Kagetlah uwak2, om, dan tante saya, karena ga pernah ada pembicaraan mengenai 'dinda punya pacar'. Fyi, dinda adalah panggilan keluarga untuk saya. Imut kan?? :D

Pas hari H, 1 September 2012, keluarga besar saya sudah kumpul dirumah sebelum maghrib. Setelah solat magrib bersama, saya pun siap-siap, ganti baju dan dandan pula. Biasanya, calon mempelai wanita akan duduk di bagian dalam rumah dan nanti dipanggil keluar untuk diperkenalkan dengan keluarga besar calon mempelai laki2.

Sampailah keluarga besar kakak dirumah kami, cuma 10 orang sih, dan dari keluarga inti beliau cuma ada orang tuanya aja, karena saudara2 kakak ga ada yang tinggal di Palembang. Kehebohan dimulai dengan tante2 dan sepupu2 saya yang ngumpul di bagian dalem rumah, ngintip dan menebak2 yang mana calon suami saya. Sempet salah tebak karena ada satu orang lelaki muda -selain kakak- di rombongan yang dateng. Saya ditanyain, "yang mana orangnya? pake baju warna apa?". Lah mana saya tau, kan ga liat dan ga bilang untuk janjian apapun sebelumnya. ^^

Setelah pembicaraan mengenai tanggal dan lain-lain selesai, acara ditutup dengan doa dan makan malem. Saya??? Sama sekali ga disuruh keluar. Padahal udah dandan bok, walopun ga heboh2 amat sih.

Selesai acara, keluarga kakak pamit pulang. Barulah, ada tante yang berinisiatif manggil saya keluar untuk salaman sama ibu-ibu keluarga kakak. Lumayan deh, ga rugi2 amat dandannya. :p


Keputusannya, kami akan menikah 20 hari lagi.


ini poto seminggu abis nikah. Masih malu-malu.


Oiya, mungkin ada yang penasaran, gimana cara kakak melamar saya. Ga ada kata-kata "will you marry me?" sambil pegang cincin atau "maukah kau menjadi ibu dari anak2ku kelak?". BIG NO.

Kakak langsung meminta guru ngajinya memproses ta'aruf kami, tanpa ada pembicaraan sedikitpun dengan saya secara langsung. Kakak hanya mengirimkan pesan via BBM dua malam sebelum ta'aruf tatap muka (sekitar 8 hari sebelum acara lamaran ini).

Isinya kira2 begini : "Kalo memang kita berjodoh, pernikahan akan dilangsungkan sebelum tanggal 1 Oktober". Sudah, begitu saja. Kok saya mau ya?? Hahaha.

Tuesday, 26 August 2014

Riwayat Handphone

Tiba2 aja pengen nulis tentang ini, untuk mengenang berbagai handphone yang pernah saya pake. Jangan berharap isi tulisan ini berupa paparan spesifikasi, kekurangan dan kelebihan HP yaa.. Saya tipe pengguna yang cepet puas sama kemampuan HP, jadi ga suka oprek-oprek. Ceileehh..

Setelah mengorek ingatan dan google (karena lupa seri-nya), ini dia handphone yang pernah menemani saya selama ini :

1. Sony Ericsson T290

Ini HP pertama saya, tahun 2005. Dibeliin mama sebagai hadiah lulus SMA. Karena dulu saya suka banget warna putih, dari awal dijanjiin mau beli HP, saya bertekad nyari HP warna putih. Harganya 700 ribuan kalo ga salah, mama beli pake uang arisan. HP ini saya pake selama kuliah di STAN, paling berjasa buat nerima dan ngirim jarkom, juga buat nerima telepon dari mama di Palembang.

http://nolkomadua.blogspot.com/2012/08/balada-sebuah-ponsel.html


2. Sony Ericsson G705

Jaman dulu (kayak tua banget), Sony Ericsson tu merk eksklusif, jadi meskipun agak mahal, tapi puas belinya. HP kedua saya ini dibeli dengan uang rapel gaji CPNS tahun 2009, harganya Rp 2.700.000 di Roxy. Waktu itu, saya lagi diklat di Jakarta, beli HP ini sama Petta, mama Petta dan keponakan Petta. Waktu beli ini, ketemu banyak temen yang pada mau beli HP juga, maklum baru pegang uang banyak :p. HP ini saya pilih karena kameranya bagus dan bisa internetan untuk buka facebook sama blog.
http://nagasell.blogspot.com/2012/09/harga-hp-handphone-merk-tye-hp.html


3. Samsung B3310

HP yang ini saya lupa kapan belinya, yang jelas waktu SE G705 itu rusak bagian sliding-nya (ga tau nyebutnya apa), saya langsung ganti dengan B3310. HP ini murah, cuma 1 jutaan. Saya suka karena modelnya unik, dan waktu itu sudah mulai kerja dimana akses internet full dikantor, dirumah juga sudah ada modem buat internetan. Jadi, beli HP ini cuma buat nelepon sama SMS-an aja.
http://www.situshp.com/hp/SS-Samsung/2049-B3310.html



4. Blackberry Curve 3G

HP ini saya beli Desember tahun 2010, waktu BB lagi booming banget. Awalnya mikir ga bakal beli BB karena ga terlalu butuh. Tapi setelah dipanas2in temen2 diklat -yang update socmed terus-, akhirnya saya ikutan beli juga :D. Waktu itu harganya Rp 3.000.000. Karena produk lama, tahan bantingnya luar biasa. Saya pake ini sampe kemarin, 25 Agustus 2014. Selama saya pake, BB ini udah dibanting, ditumbuk, digigit, dan dicongkel oleh Fatih (keponakan) dan dilanjutkan oleh Rafsanjani, anak saya. Semuanya masih baik2 saja sampe saya memutuskan untuk ganti HP. ^^





dipoto pake si-HP-baru Lenovo A859. Hasilnya blur, soalnya belom terbiasa :p


5. Samsung Champ C3303
HP ini dibeli tahun 2011 untuk ganti Samsung B3310 yang rusak slidingnya (masalahnya sama kayak SE G705). Karena sudah punya BB, saya nyari HP untuk nomor utama, yang cuma dipake buat nelepon dan sms. Nyarinya yang murah aja, ga mesti canggih, tapi harus kuat (apasih). Akhirnya pilihan jatuh ke Samsung Champ C3303 ini. Harganya murah, Rp 500.000, belinya pake kartu kredit, powerbuy 6 bulan. Hahaha. HPnya tahan banget, sampe sekarang masih bagus, baterenya bisa tahan seminggu, padahal belom pernah ganti. Soalnya beneran cuma dipake buat sms sama nelepon.
Entah sampe kapan bakal dipake. Selama masih bagus, kayaknya ga akan diganti deh. :)

http://hargadanspesifikasi.info/harga-dan-spesifikasi-handphone-samsung-champ-c3303-januari-2013/


6. Lenovo A859

Nahh..ini yang paling gress. Hp yang baru dibeli Sabtu, 23 Agustus 2014 kemaren.  Awalnya karena si BB udah 'ga layak liat' lagi.

Percakapan saya dan suami:
Saya : "Kak, BB itu kalo dijual, dapet berapa ya?"
Kakak : "50 ribu aja belom tentu ada yang mau. Mau ganti?"
Saya : "nanti deh, kalo dapet arisan kompleks"

Beberapa hari setelahnya,
Kakak : "Ulang tahun perkawinan nanti mau kado apa? HP aja ya?" sambil ngeluarin kertas, isinya daftar nama HP dan harganya.
Saya : *masih bengong*

Kakak : "Besok abis kondangan, kita ke mall"

Huuaaaa...saya terharu sekali :').

Saya tadinya berniat beli ASUS Zenfone 4, sudah bilang ke kakak, ga usah yang mahal2, soalnya Rafsanjani masih belom ngerti. Nanti dipegang aja sama Rafs, bikin deg2an. Yang penting bisa internetan. Tapi kakak ga setuju, karena ASUS belom terlalu banyak produk HPnya. Prinsip kakak, yang penting terpercaya. Daripada murah, tapi nanti cepet rusak.

Akhirnya pilihan kami jatuh ke Lenovo A859. HP ini sama kayak punya Icha,adek saya, yang baru dibeli bulan Romadhon kemaren. Kamera belakang 8 MP, kamera depan 1.6 MP. Mantep deh buat poto2. :D


gambar jelasnya, googling sendiri yaa..
Oiya, udah gitu, kakak juga kasih saya kartu SIM yang sudah terdaftar internet paket penuh, yang biasa dipake kakak untuk BB-nya. Kurang apa lagi coba :'). Alhamdulillah. 

Masih canggung makenya karena besar dan full touchscreen. Sampe sekarang belom banyak di-otak-atik. Maklum...sibuk :D. Saya bertekad, HP baru ini ga boleh bikin waktu saya untuk Rafsanjani dan kakak berkurang. HARUS.

Dulu waktu masih gadis (duh...bahasanya), saya termasuk gadget-addicted. Bawa HP kemana2, ngecek terus, refresh terus, padahal ga banyak juga notifikasinya. Kemudian berkurang sejak nikah, karena kalo dirumah, suami ga suka dicuekin. Dan sekarang, kalo lagi sama Rafsanjani, ga bisa lagi se-leluasa dulu main HP. Seminggu libur, seminggu pun HP ga kesentuh. \(^_^)/


Okedeh, itu tadi semua HP yang pernah dipake sampe sekarang. Saya tipikal setia sama HP, ga suka gonta-ganti karena bosen. Biasanya ganti HP karena memang rusak. Memaksa diri untuk beli karena butuh, bukan beli karena ingin :).

Bye.