Wednesday, 14 January 2015

Catatan Perjalanan - Mudik #1_Pendahuluan


Dulu jaman kuliah, saya ga pernah ngerasain euforia mudik massal pas libur menjelang hari raya, karena libur di kampus selalu jauh lebih awal dan selesai lebih akhir dari biasanya. Ga ngerasain deh yang namanya keabisan tiket atau macet di jalanan. Kerja pun (alhamdulillah) penempatan di kota yang sama dengan orang tua, jadi  ga pernah juga pake cuti atau long weekend buat mudik ke rumah.

Time goes...
Saya menikah. Mertua saya ga berdomisili di kota Palembang, jadi kami punya kesempatan untuk ngerasain 'mudik'. Sejak menikah bulan September 2012 lalu, ini baru kali kedua saya berkunjung ke rumah mertua. Perjalanan yang harus ditempuh selama kurang lebih 10 jam menggunakan transportasi darat, menciptakan keterbatasan saya untuk kesana. Kondisi hamil jelas ga memungkinkan buat saya menempuh perjalanan jauh dengan kondisi jalan yang jelek banget. Setelah punya anak, saya dan suami harus memikirkan kenyamanan dan kesehatan Rafsanjani untuk dibawa sejauh itu. Alhamdulillah, keluarga suami mengerti. Mertua dan kakak-ayuk iparlah yang bergantian menjenguk kami disini.

Kali pertama kami mudik, umur Rafs 4 bulan. Waktu itu kami berencana merayakan Idul Adha disana sekaligus syukuran kelahiran Rafs. Kami mudik mengajak kedua orang tua dan adek saya, jadi banyak yang bantuin ngurus dan jaga Rafs selama di jalan dan di rumah mertua. Untuk mudik kali ini, kami pergi berlima : saya, suami, Rafs, pengasuh Rafs (yang memang 1 dusun dengan suami), dan keponakan (yang sekolah di Palembang). Lebih berasa deg2annya karena harus bisa mengurus semuanya tanpa bantuan mama.

Sebenernya, rencana mudik ini sudah ada sejak Idul Fitri. Karena satu dan lain hal, akhirnya mudik kami tunda dan baru terlaksana di akhir Desember ini.

Dusun suami saya namanya Tanjung Kurung. Sesuai namanya, secara geografis, dusun ini 'terkurung' oleh perbukitan dan sungai. Karena berada di 'jalan buntu', kondisi dusun menjadi statis, tidak berkembang. Kalo sudah masuk ke gerbang dusun, kita seperti terpisah dari dunia luar. Sinyal HP ga ada sama sekali, televisi bisa ditonton hanya jika menggunakan parabola (itupun saluran tertentu saja), dan listrik yang lebih sering padamnya. Kalo suami lagi mudik sendirian, 3 hari disana, 3 hari pula saya ga bisa berkomunikasi dengan beliau. :)

Karena itu, saya pun melakukan banyak persiapan, terutama yang berhubungan dengan semua keperluan Rafs. Mulai dari diapers, mainan, cemilan, lauk, bahkan kelambu, semua dibawa dari Palembang. Bawaan kami segambreng untuk mudik yang hanya 4 hari, dimana 2 harinya dipake untuk perjalanan. Tak apalah, toh bawa mobil sendiri juga.

Hari yang dinanti, 25 Desember 2014, kami berangkat pukul 05.20, terlambat 20 menit dari rencana semula. Saya sudah packing dari 2 hari sebelumnya supaya malem sebelum berangkat, semua barang sudah bisa masuk ke dalam mobil. Belajar dari pengalaman mudik pertama, dimana malemnya kami begadang untuk packing, dan baru dimasukkan ke dalam mobil pada pagi harinya, ternyata lebih melelahkan dan membuang waktu. Apalagi kali ini suami akan nyetir sendirian, ga ada pengganti, jadi fisik harus dalam kondisi prima (yaelaahh..).

Perjalanan berjalan lancar pada awalnya. Setelah kira2 setengah jam, mulai keliatan penumpukan kendaraan. Oh noooo.. jalan Palembang-Indralaya macet, yang katanya bisa stuck berjam-jam ga jalan sama sekali. Cobaan deh, padahal baru juga jalan dikit. Saya menghibur suami dengan bilang, "gapapa, nikmatin aja, kan jarang-jarang mudiknya". Walopun dalam hati ketar-ketir juga secara bawa anak kecil dan suami ga bisa gantian nyetir, khawatir kelelahan sebelum nyampe ke dusun. Ditengah kemacetan, tiba2 ada sekelompok pemuda lokal yang menawarkan kami untuk masuk ke pemukiman warga. Suami masih ragu, soalnya sepengetahuan beliau menjelajah Kabupaten Ogan Ilir (wilayah kerja beliau sebelumnya), jalur Palembang-Indralaya cuma satu itu. Apalagi waktu ditanya nembusnya kemana, si pengarah jalan keliatan bingung. Tapi saya positive thinking aja dengan ngeliat banyaknya mobil yang masuk ke jalan itu, minimal kesasarnya ga sendirian. Akhirnya, kamipun konvoi dengan kendaraan lain masuk ke jalan tersebut.


pemandangan di jalan 'pintas' Palembang-Indralaya, diambil dari mobil

Baru jalan 10 menitan, suami yang masih ragu kemudian melambaikan tangan untuk nyetop mobil dari arah berlawanan. Setelah bersisian, suami langsung nanya ke pengemudi mobil itu dijawab dengan  "Palem Raya", sebuah nama perumahan yang sudah familiar buat suami. Kamipun mantap melanjutkan perjalanan melalui jalan itu. Hampir 2 jam kami melewati jalan kecil di tengah sawah dan pemukiman, harus berhenti setiap berpapasan dengan mobil lain karena jalannya ga muat, sampai akhirnya keliatan juga si jalan besar di Indralaya. Alhamdulillah. Kami langsung mampir ke SPBU untuk istirahat. Waktu ngantri masuk ke kamar mandi, saya nguping ibu2 yang lagi cerita soal macetnya jalan, dan ada satu ibu yang sudah berangkat dari jam 03.00 subuh, baru nyampe Indralaya jam 08.00 melalui jalur normal, bukan yang dialihkan seperti kami. Alhamdulillah, berarti ga salah ngambil keputusan tadi. :)



bobok aja kerjaannya nii.. :*




..to be continued..

Thursday, 8 January 2015

Rafsanjani versus HP

Rafsanjani ga pernah dikenalin dengan gadget secara sengaja, misal untuk diemin atau mengalihkan perhatiannya. Sampe umurnya setahun lebih beberapa bulan, Rafsanjani ga pernah tertarik dengan HP, kecuali untuk dipukul, diketok, atau dilemparnya. Mama saya yang suka ga tega kalo liat Rafsanjani sibuk ngeliatin anak lain maen HP, "kasih donk HP ke adek, kasian dia liat anak lain kayak kepengen bener". Tapi tetep ga saya kasih. Kadang kalo liat kami pegang HP, Rafsanjani suka pengen ikutan pegang. Biasanya, kami tunjukin foto dan video dia sendiri yang sering kami ambil dan Rafsanjani suka banget.

Beberapa minggu lalu, saya dan suami berinisiatif untuk ngeliatin video hewan2 via youtube ke Rafsanjani. Seneng banget dia, ketawa2 dan jadi pinter niruin suara2 hewan. Tapiiii...ehhh dia ketagihan!! Setiap liat saya atau ayahnya, pasti minta nonton video. Sama ayahnya, akhirnya si video didownload dan disimpen di HP kami, supaya lebih mudah dan hemat nontonnya. Waktu kami mudik ke rumah mertua, saya cukup terbantu dengan video2 tersebut karena Rafsanjani bisa duduk manis dipangkuan saya.

Kemudian beberapa hari lalu, saya ngerasa Rafsanjani jadi lebih rewel dan labil emosinya kalo sudah menyangkut HP. Kalo dilarang atau telat dikit buka file, Rafsanjani bakal ngamuk, trus moodnya jadi jelek. Akhirnya jadi gampang ngambek pas main. Saya mulai berpikir, ada yang salah dengan pola asuh kami. Dan kali ini saya langsung menyalahkan si HP yang memang belakangan ini akrab banget sama Rafsanjani.

Akhirnya saya bilang ke suami untuk sama2 menjauhkan Rafsanjani dari HP. Cara yang paliiiing pertama adalah menjauhkan diri kami dari HP, karena ga mungkin melarang Rafsanjani kalo kami sendiri masih suka main HP didepan dia.


Ternyata sulit looo... 3 hari pertama, Rafsanjani hampir tiap jam merengek minta HP, dan kami sibuk ngalihin perhatiannya dengan mainan lain. Alhamdulillah hari ini sudah hari ke-5, dan dua hari terakhir ga sekalipun Rafsanjani minta HP ke kami.

Kamipun sekarang hampir ga pernah lagi megang HP selama di rumah :).



Bener banget kata orang, anak itu kayak kertas putih, mudah sekali untuk ditulisin. Anak kecil yang lagi dalam golden period itu mesin fotokopi, semua hal ditiru sampe ke detil2nya. Kami harus lebih sering belajar. Belajar untuk jadi lebih baik dan belajar menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal buruk.



dijeeehh..



Maafkan ibu dan ayah, dear Rafsanjani. :*

Tuesday, 16 December 2014

cerita (menjelang) akhir tahun


11 Desember lalu, Rafsanjani tepat 18 bulan. Setahun persis mulai makan, insyaAlloh minimal 6 bulan lagi lulus S3 ASI. Pas pula di hari itu, Rafsanjani demam tinggi. Alhamdulillah, sorenya sudah mendingan.

Ada dua agenda besar kami untuk Rafsanjani dalam 6 bulan ke depan, yaitu memulai persiapan penyapihan dan toilet training-free diapers. Sampe sekarang pun belum ada yang dimulai, tapi optimis semua berjalan baik dan lancar.

Oiya satu lagi, kayaknya harus mulai mensosialisasikan anak kecil ke Rafsanjani, semoga kami dikasih amanah adik Rafsanjani pada waktu yang tepat, insyaAlloh. :)


sunrise di tepi sungai Musi

Tuesday, 4 November 2014

Kabar Bulan Oktober

Oktober ini bulan yang melelahkan buat saya, kami sekeluarga sih sebenernya. Banyak hal yang terjadi di bulan ini, yang rasanya bikin energi, waktu, dan pikiran terkuras.

Yang pertama adalah renovasi rumah mama. Ini ga ada hubungan langsung dengan saya, harusnya. Tapi berdampak pada rafsanjani yang dititip dirumah mama setiap hari. Debu, beberapa bagian rumah yang terbuka, dan juga berisik, membuat kami memutuskan untuk meninggalkan rafsanjani dirumah kami sementara waktu. Efeknya ternyata luar biasa :D. 

Setiap siang kami harus menempuh kurang lebih 14 km untuk menjenguk rafsanjani. Karena ga ada gantian, pengasuh rafsanjani ga kami bolehin ngerjain kerjaan lain. Untuk makan siang dan makan malam, kami harus beli atau saya yang masak. Biasanya begitu nyampe rumah sore hari, saya mulai beraksi di dapur, membuat makanan2 sederhana, sekedar goreng ayam atau telur, rebus lalap, dan bikin sambel.

Setiap weekend, saya ke pasar, belanja dan nyampe rumah langsung diolah untuk disimpen di kulkas untuk persediaan selama seminggu. Biasanya ayam, tahu, tempe sudah saya ungkep, ikan pun sudah dikasih air asem jawa, sehingga untuk memasaknya nanti ga perlu waktu yang lama.

Pikiran jadi ga fokus. Takut nanti rafsanjani bosen dirumah aja sendirian, takut pengasuhnya capek, takut rafsanjani ditinggal sendirian kalo pengasuhnya solat atau ke kamar mandi, pokoknya banyak takut deh.


Di pertengahan bulan Oktober, bapak harus opname di RS. Diagnosis dokter adalah stroke telinga, sudden deafness. Gejalanya adalah vertigo hampir seminggu. Golden period penyembuhannya cuma 1 minggu. Kami ga punya banyak waktu untuk berpikir, bapak harus masuk RS sesegera mungkin. Ga ada treatment khusus sih. Bapak cuma disuruh istirahat, meminimalkan kepala tegak, pake earphone biar ga denger suara dari luar, minum obat, dan dikasih oksigen setiap 6 jam untuk dialirkan ke telinga. Dan itu semua terjadi selama 2 minggu. Bisa dibayangin bosennya bapak disana.

rafsanjani waktu diselundupin ke RS

Saya selalu nyempetin setiap siang abis jenguk rafsanjani, mampir ke RS untuk nemenin bapak dan mama yang nungguin disana. Jam istirahat saya harus molor 2-3 jam. Alhamdulillah punya rekan kerja yang pengertian dan ga rese. Malahan selalu nanya progress bapak dari hari ke hari.

Kamis, 30 Oktober kemarin bapak dibolehin pulang. Seneng banget rasanya. Rafsanjani kami ajak jemput ke RS, trus malemnya kami nginep dirumah mama. Besok paginya, pengasuh rafsanjani dijemput suami untuk ngurus rafsanjani karena kami harus masuk kerja kayak biasa. Hari itu rasanya lega dan tenang banget ngantor. Bapak sudah pulang dari RS, rafsanjani sama pengasuhnya ada dirumah mama. :')

Sayapun minta pendapat dengan mama, bapak, dan suami. Alhamdulillah semua sepakat rafsanjani kembali dititip dirumah mama. Setiap pagi kami anter rafsanjani dan pengasuhnya kerumah mama, pulang sore dijemput lagi. Memang harus berangkat lebih awal dan pulang lebih akhir, tapi kalo demi kebaikan rafsanjani sih, perjuangan apapun akan kami lakukan.



dijalan jemput bapak


Oktober berlalulah, bawa semua kegundahan dan kegelisahan yang ada bersamamu. Dan November, hampirilah kami dengan segala optimisme dan kebahagiaan.

Tak ada ujian yang tidak bisa dilewati, hanya nilainya saja yang membedakan seberapa mampu kita melaluinya. Dan percayalah bahwa Alloh selalu bersama kita :).

Thursday, 16 October 2014

Rindu itu

Dulu..begitu ketemu mama waktu pulang ke Palembang kalo libur kuliah, saya pasti nangis sambil meluk mama. Rindu....yang tak terdefinisikan, tak juga sanggup untuk diucapkan. Rasanya lega dan bahagia, seolah semua akan baik-baik saja kalo ada mama.

Kemarin, saya pulang siang jenguk Rafsanjani. Tiga hari terakhir, saya ada urusan lain sehingga ga bisa pulang siang. Saya masuk lewat pintu belakang. Rafsanjani menghambur ke pintu depan, melihat ayahnya, kemudian terus berlari menuju motor, seperti mencari sesuatu. Saya panggil dia dari belakang. Rafsanjani noleh, setengah melompat begitu liat saya, lalu lari ke pelukan saya.

Ekspresinya, raut wajahnya, ga akan saya lupa. Mata berkaca-kaca, pekik bahagia yang tertahan, tangan mungil yang terbuka lebar. Mungkin sama kayak ekspresi saya tiap meluk mama dulu. 


Ini anugerah yang ga pernah terfikir sebelumnya:

"anugerah menjadi orang yang sangat penting bagi seseorang"