Wednesday, 2 September 2015

Menyapih Rafsanjani

Draft ini sudah kesimpen dari jaman kapan tau, baru ini sempet (ceileh gayanya) di-publish. Puzzle memori tentang Rafsanjani, sang Pangeran. :)


Sejak hamil Rafsanjani, saya bertekad untuk ngasih ASI Eksklusif, dan dilanjut sampe 2 tahun.  Awalnya banyak bingung dan ragu, tapi setelah dijalani, Alhamdulillah berhasil ngasih ASI eksklusif sampe 6 bulan meskipun harus kejar tayang stok ASIP. Selanjutnya, saya tetap menyusui Rafsanjani, dan berencana untuk menyapihnya nanti di usia 2 tahun.

30 April 2015, hari terakhir hajatan besar Direktorat Jenderal Pajak , tempat saya dan suami bekerja. Saya dapet keringanan untuk ga lembur, sementara suami baru bisa pulang jam 19.00. Seminggu belakangan rasanya lemes banget, padahal dikantor lagi sibuk2nya. Saya juga sudah telat haid 5 hari. Saya pikir, hormon memang belum stabil karena sebelumnya saya menggunakan KB suntik dan sudah setahun ga dapet haid. Baru dibulan Februari dan Maret, haid saya sudah mulai sebulan sekali. Pulangnya, saya mampir ke apotek untuk beli testpack, penasaran aja. Saya beli yang paling murah, dan saya pake langsung sore itu juga. Garis dua terang langsung muncul. Speechless. Bahagia. Saya merasa Alloh sayang sekali dengan kami.

Yang bikin saya agak deg2an adalah soal menyusui Rafsanjani. Masih kurang satu bulan lebih beberapa hari lagi sampe waktu seharusnya dia disapih. Setelah konsultasi dengan dokter kandungan, kami sepakat untuk mempercepat Rasanjani disapih, soalnya saya merasakan kontraksi dan sakit saat menyusui Rafsanjani.

2 Mei 2015. Setelah hari sebelumnya gagal ga ngasih mimik ke Rafsanjani, suami saya lebih 'tega' melarang Rafsanjani menyusu. oiya, fyi, Rafsanjani ga dikasih susu tambahan apapun sebelumnya, jadi waktu mau dikasih susu lain untuk ngalihin perhatiannya, dia ga mau :D. Malem pertama, saya dipisah tidur dengan Rafsanjani. Sama2 nangis kenceng. Masih pilu bayanginnya sampe sekarang (lebay). Alhamdulillah, Rafsanjani akhirnya mau bobok sambil digendong. Malem kedua, sudah lebih tenang dan santai. Fyi lagi, Rafsanjani masih nyusu kalo mau bobok sama saya aja, tapi kalo siang sama  pengasuhnya, sudah bisa bobok sendiri.

Total 3 hari Rafsanjani masih nyariin nen. Hari ke-4 dan seterusnya, Rafsanjani sudah anteng dan ga nanya2 lagi soal nen. Lagi2, Alloh membantu kami, memudahkan semua prosesnya. Saya percaya Alloh yang melembutkan hati Rafsanjani, seperti doa2 yang selalu saya panjatkan dalam proses penyapihan ini.


Sekarang Rafsanjani umurnya 2 tahun 2 bulan 22 hari. Kami sudah memanggilnya kakak. Kehamilan saya sudah sampai di 24 minggu. Awalnya saya takut, Rafsanjani jadi ga lengket lagi sama saya sejak ga dikasih ASI. Alhamdulillah kekhawatiran saya sama sekali ga terbukti. Rafsanjani semakin nurut dan deket dengan saya. Begitu ada saya, Rafsanjani sudah ga mau lagi main sama pengasuhnya ataupun yang lain :).

Oiya, sejak disapih, Rafsanjani semakin gendut karena makannya banyak (sampe sekarang masih No Susu), dan boboknya juga nyenyak, ga kebangun2 kalo malem.
 
Sejujurnya, saya merasa bersalah karena ketidakmampuan saya memberikan ASI sampe 2 tahun seperti perintah Alloh (Al-Baqarah ayat 233). Tapi saya percaya, Rafsanjani dan Alloh mengerti keterbatasan saya.

Buat saya, menyusui adalah kewajiban. Menyusui adalah kodrat yang sudah Alloh tetapkan pada setiap ibu. Semoga Alloh memudahkan saya dalam menyusui adik2 Rafsanjani kelak :).

Wednesday, 22 April 2015

Ulang tahun

Alhamdulillah, dari pagi, saya dihujani dengan doa2 indah.
Tengah malem diberi ucapan oleh suami. Nganter rafsanjani, disuguhi kue ulang tahun plus kado dari mama-bapak-icha. Nyampe kantor, bertubi2 dapet ucapan dan doa, mulai dari Pak Kepala Kantor, lalu bapak-ibu, temen2, sampe adek2 yg lagi OJT. Belum lagi yang ngucapin dan doain via socmed.

Ah...pokoknya Alhamdulillah..Allohuakbar.

kue ultah ala rumah mama

Terima kasih Alloh untuk semuanya : kebahagiaan, terkadang kesulitan dan ujian, doa yang dikabulkan, rejeki yang tak pernah putus, kekuatan yang tak terduga, pokoknya semuanya deh. :)

birthday puding dari temen2 kantor
Walau saya masih sering lalai, masih sering lupa, masih banyak dosa, dan masih banyak jeleknya, tapi pintu rahmat dan maafMu pasti lebih luas.

Terima kasih Alloh untuk malam2 yg (hampir) selalu saya habiskan bersama suami dan anak.
Terima kasih Alloh untuk semua fasilitas yg membuat kami tak perlu kehujanan dan kepanasan.
Terima kasih Alloh untuk senyum Rafsanjani setiap pagi.
Terima kasih Alloh untuk lingkungan pekerjaan yang baik.
Terima kasih Alloh untuk keluarga yang selalu ada, mendukung dan membantu.
Terima kasih Alloh untuk 27 tahun kehidupan ini.
Dan terima kasih Alloh untuk kesempatan hidup lebih lama lagi, insyaAlloh. :)


Dari semua doa2 indah yang dipanjatkan teman dan keluarga, yang paling semangat saya amin-kan adalah doa 'semoga segera hamil lagi'. InsyaAlloh :)

Wednesday, 8 April 2015

Belajar dari Untari-Anton

Belajar bisa dari mana saja lewat siapa saja. Kali ini saya mau cerita tentang 2 anak SMA yang baru selesai menjalani Pendidikan Sistem Ganda (PSG), PKL kalo jaman dulu namanya.

Untari dan Anton,nama 2 anak itu. Mereka dari sekolah swasta di pinggiran kota kami. Awal2 mereka dateng dan disuruh bantuin kerjaan, mereka harus disupervisi secara total, kalo ga mau ada yg salah. Dijelasin berkali2, dikasih catetan, dan begitu selesai harus diperiksa lg. Malah lebih capek daripada ngerjain semuanya sendiri.

Tapi semakin lama,mereka semakin menyenangkan. Dengan daya tangkap yang terbatas, mereka ga malu nanya berkali2. Sampe sekitar sebulan setelah mereka pertama kali dateng, saya kaget waktu beberapa rekan kerja nanyain mereka ke saya. Ternyata mereka populer di kantor ini :D.

Saya baru tau, kalo mereka menyapa semua orang yg mereka temui. Pegawai, anak2 OJT, cleaning service, sampe satpam. Walaupun respon orang ga selalu baik,berulang kali pula mereka tetap dengan ramah akan menyapa setiap orang.

Saya belajar banyak dari 2 anak remaja ini :

Ceria. Dalam keadaan apapun, mereka akan tetap semangat dan lincah  datang kekantor. Tak ada sedikitpun terlihat rasa jenuh, lelah, apalagi marah.

Ramah. Memanggil setiap orang yang ditemui dengan nama yang sudah mereka hapalkan, tersenyum setiap berpapasan walopun dicuekin.

Giat. Diminta tolong apapun pasti mereka kerjain,walopun sudah sore atau siang waktu istirahat.

Banyak lagi deh. Pokoknya, kehadiran mereka berkesan buat saya.

Oiya, sudah seminggu ini PSGnya selesai. Saya jadi nganter surat sendiri, bukain amplop sendiri, nulis sendiri, pokoknya semua sendiri.��

Take care ya, adek2. ��

Friday, 6 February 2015

Catatan Perjalanan - Mudik #3_Tanjung Kurung

Memandang alam dari atas bukit,
Sejauh pandang kulepaskan
Sungai nampak berliku
sawah hijau terbentang
Bagai permadani di kaki langit
Gunung menjulang,
berpayung awan,
Oh.. indah pemandangan

(Memandang Alam)


Dusun suami saya bernama Tanjung Kurung. Untuk ukuran saya yang tinggal di kota yang serba ada dan serba mudah, dusun suami saya bisa dikategorikan terpencil. Dusun ini cuma berisi kurang lebih 1000 warga, dengan mayoritas bekerja sebagai petani. Bahkan, guru SD disana pun, masih bertani sepulang ngajar di sekolah. Bahasa yang digunakan di dusun adalah bahasa daya, bahasa yang jauh beda dengan bahasa Palembang apalagi bahasa Indonesia. Waktu pertama kali kenalan dengan keluarga suami, saya kaget karena ga ngerti sama sekali bahasanya. Sekarang sudah 2 tahun menikah, sudah ngertilah dikit2. Hehe.

jalan menuju kebun tempat mertua biasa bertani
Sesuai namanya, dusun ini terkurung oleh perbukitan dan sungai. Untuk bisa mencapai rumah mertua, kami harus menyeberangi jembatan gantung, mobil ditinggal di seberang. Jangan ditanya sinyal, segaris pun tak ada. Kalo mau nelpon, harus jalan keluar dusun, ke tempat yang agak tinggi. Tak ada pasar, warung makan apalagi, hanya ada warung keperluan sehari2 dengan jenis barang yang tak banyak.

jembatan gantung (tampak belakang)
jembatan gantung (tampak depan)



















 
Suami saya sering bercerita tentang masa kecilnya (lulus SD, beliau sudah merantau ke Palembang sampe sekarang), yang menurut saya mirip2 sama cerita Laskar Pelangi. Dulu saya pikir, sekolah kayak Laskar Pelangi itu cuma ada di film (meskipun diambil dari kisah nyata), tapi setelah denger cerita suami, saya percaya memang ada yg begitu.

Dusun yang cuma punya satu SD, dimana gurunya bergantian mengajar. Kelasnya pun bergantian karena keterbatasan lokal dan guru. Suami suka nunggu diluar kelas memperhatikan kakak kelasnya belajar, kemudian dia akan ikut menjawab pertanyaan2 gurunya padahal kakak2 kelasnya ga bisa jawab. Ada guru dari 'kota' yang pintar dan memang mendidik, kreatif mengajarkan keterampilan tangan atau mengajak membaca buku cerita. Ada juga guru yang masih 'kampungan', memperlakukan anak muridnya sesuai hubungan kekerabatan si guru dan orang tuanya. Temen sekelas yang hanya hitungan jari-satu-tangan yang melanjutkan sekolah ke SMP, sisanya?? ada yang ikut bertani, ada yang tinggal dirumah jagain adek2nya, dan ada yang menikah :). 

SD Negeri Tanjung Kurung
Pulang sekolah, suami dan teman2nya akan bermain di hutan atau mandi di sungai, sembari menunggu para orang tua yang belum kembali dari kebun. Malamnya, orang2 akan berkumpul di rumah Kepala Desa untuk menonton TV karena itulah satu2nya TV di dusun tersebut. Biasanya akan ada keributan kecil karena Bapak2 yang mau nonton berita rebutan dengan anak2 yang mau nonton film pendekar atau film anak2. Trus, kemana2 kalo malem harus bawa senter karena ga ada penerangan di sepanjang jalan di dusun (yang ini masih sampe sekarang).

Hari Jumat, semua kegiatan di pagi hari akan berkurang dari hari biasanya. Mobil angkutan yang ke kota setiap hari, akan libur di hari Jumat. Kenapa? Karena ada solat Jumat. Mereka khawatir akan terburu2 atau malah ga sempet ikut solat Jumat di dusun kalo tetap berangkat ke kota.

Bertamu ke tetangga pun ada aturannya. Kalo tamu laki2, masuk melalui pintu depan. Tetapi kalo tamu perempuan, masuk dari pintu belakang. Tamu laki2 yang masuk lewat pintu belakang akan dianggap genit, dan tamu perempuan yang masuk lewat pintu depan dianggap lancang. Oiya satu lagi, ada kebiasaan bertamu ke rumah orang yang anggota keluarganya baru datang dari kota, seperti kami. Waktu pertama kali kesana, rumah mertua saya rame didatengin tamu yang mau ketemu saya, bahkan sampe malem banget :').

Ada kebiasaan disana yang bikin kagum : kekeluargaan dan kepedulian yang masih begitu kental. Ceritanya, beberapa bulan setelah kami menikah, ada salah satu warga dusun yang dirujuk ke rumah sakit di Palembang karena penyakit kanker. Menurut cerita suami saya, keputusan mengirim beliau ke Palembang adalah hasil musyawarah seluruh warga dusun. Semua biaya ditanggung bersama, termasuk orang2 yang menemani ke Palembang pun dipilih oleh warga dusun.

Disana ga ada polisi, ga ada hakim atau jaksa, semua masalah diselesaikan dengan musyawarah dan mufakat, kemudian setiap orang akan patuh terhadap apapun keputusan yang diambil. :)


Masih banyak cerita tentang dusun ini, insyaAlloh dilanjut di lain hari. ^^



semacam tugu di alun-alun :)

di kebon kami, investasi untuk Rafs kuliah ^^

main di sungai (kecil)

 _(masih) bersambung_


Thursday, 5 February 2015

Catatan Perjalanan - Mudik #2_On The Way


Okedeh. Kita lanjut yookk nulisnya. Bagian kedua ini nyambung cerita soal perjalanan dari Palembang ke Tanjung Kurung, kampung halaman suami.


Dari Indralaya, perjalanan kami teruskan ke Prabumulih, lalu Baturaja. Alhamdulillah ga ada halangan, jalanan mulus, Rafsanjani yang sebelum2nya dikhawatirkan ga betah ternyata adem-ayem-manis-pinter :*. Nyampe di Baturaja jam 12.30, kami langsung cari tempat makan, sekaligus muterin kotanya untuk nyari jalan menuju Muara Dua (ibukota OKU Selatan). Setelah makan, kami lanjut lagi perjalanan kurang lebih 90 menit menuju Muara Dua.

Jam 14.30, nyampe juga di rumah kakak ipar di Muara Dua. Kamipun solat, ngobrol2 sama ayuk ipar sambil nyemil mangga yang maniiisss banget. Segerrrr!!! Rafsanjani asyik main bareng sepupu2nya, mungkin dalem pikirannya dia lega banget bisa bebas main lagi. Kami menunggu kakak ipar yang lagi dalam perjalanan pulang kerumah. Begitu sampe rumah, kakak ipar langsung nyiapin genset buat dibawa ke dusun, karena listrik bakal sering banget mati, kata beliau.

Akhirnya jam 16.30 kami mulai jalan ke dusun. Ketar-ketir juga karena menurut perkiraan, jalanan berkelok dan jelek banget. Alhamdulillaah, ternyata jalan sudah diperbaiki, jadi baguuusss banget. Perjalanan yang dulu kami tempuh 2 jam lebih, kali ini bisa dicapai dalam 90 menit :). Ga lupa, sekitar 5 KM dari dusun yang merupakan checkpoint alias tempat terluar dari jangkauan sinyal telepon, saya nelpon mama, mengabarkan bahwa kami sudah akan sampai di dusun.

Begitu memasuki dusun, keponakan kami yang rumahnya paling deket dengan jalan masuk dusun langsung teriak2 dan manggil bapak-ibu mertua, kakak-ayuk ipar, serta keponakan2 saya. Penyambutan kami berlangsung rame dan heboh. Ga sempet poto2 karena ujan dan riweh gendong bujang ganteng. :D



pendekar ganteng